Another first. Presenting my section’s plan for year 2015 in front of CEO, COO, Division Heads, Department Heads and it went awesomely well for a rookie who’s still figuring everything out.

PIPI

Ada yang pernah ngatain kalo pipi aku kaya warung. Dan aku bingung dibuatnya. Maksudnya apa ya?

Begini, kalo dilihat dari jenis atau kategorinya, warung merupakan tempat distribusi ke end user. Tapi kalo dilihat dari skalanya, tentunya warung termasuk kecil dibandingkan supermarket ataupun minimarket. Tapi tentu saja lebih besar daripada pedagang asongan.

Kalo dilihat dari ukuran sebatas ukurannya saja, tidak perbandingan sesuai kategori, warung jelas lebih besar dibanding kerikil, tapi tidak dibandingkan dengan piramida.

Atau kita mau lihat dari fungsi warung kebanyakan di Bandung. Tempat ngaso dan ngopi. Banyak orang, dapat menampung banyak orang, berarti berkapasitas cukup atau berkapasitas besa untuk menampung entitas-entitas besar.

Kenapa gak bilang aja kalo pipi ini sebesar gajah? Yang sudah jelas maksudnya apa. Ada apa dengan anak muda sekarang yang selalu menganalogikan semuanya sesuka hati dan tidak jelas?

(Ini pernyataan dilontarkan dari jaman aku kuliah, masih belum terjawab sampai sekarang. Mungkin orang tersebut bakal bilang pipi sebesar Danau Toba dengan asumsi beliau sudah meningkat kecerdasannya dalam beranalogi.)

Begini, jaman SMP pernah baca Petir for it was super huge back in the day. Gak dilanjutin baca seriesnya karena fokus sama produk-produk impor. Tapi sepertinya awak begitu naif kalau melupakan literatur kebanggaan negeri sendiri. Dan berhubung mereka baru mengeluarkan seri travelnya, belilah aku seri pertamanya. Dan, dan, ada kata-kata dari dosen Estetika terbaik di UNPAR, Bapak Ign. Bambang Sugiharto. Kelas humaniora terbaik yang pernah diambil. If he says the book’s good then it’s good.

Begini, jaman SMP pernah baca Petir for it was super huge back in the day. Gak dilanjutin baca seriesnya karena fokus sama produk-produk impor. Tapi sepertinya awak begitu naif kalau melupakan literatur kebanggaan negeri sendiri. Dan berhubung mereka baru mengeluarkan seri travelnya, belilah aku seri pertamanya. Dan, dan, ada kata-kata dari dosen Estetika terbaik di UNPAR, Bapak Ign. Bambang Sugiharto. Kelas humaniora terbaik yang pernah diambil. If he says the book’s good then it’s good.

Then I realized that I haven’t lived at home, in Bandung, for a little over a year now. Time has passed, I could cry or I could smile when I look back. I am changed.

I don’t thing I’m good at describing myself but I’m always amazed by my ability to express my feelings.
Are feelings also a description of myself? Or are they just a state of being?
Are actions also describe who I am?
I am many things. I can’t say I’m this nor that. I’m not one. I’m a bundle of decisions, actions, feelings, way of thinking.
Is my habit me? But I can shape it. So I can shape myself.
Is who I am what I choose to show or exactly what I don’t choose to show? If the later, then my description is completely wrong than what I think I am.
So is it a matter of relativity? How?
How about my Instagram pictures, my blog posts, my tweets, the way I tweet?
Whatevs dude, I am that I am.

Saya bisa pastikan kamu, kalau ini adalah cerita cinta. Cintaku pada diriku sendiri. Kamu bisa lihat itu sebagai penyakit jiwa narsisistik, atau kamu bisa lihat itu sebagai bentuk percaya diri saya, atau kamu bisa lihat itu sebagai rasa sayang pada diri saya. Bebas.

Tapi pertama-tama, apakah sebenarnya cinta? Apakah untuk melindungi atau untuk membebaskan? Mungkin keduanya. Menurut saya keduanya. Melindungi dari hal-hal yang membuat tidak nyaman dan juga membebaskan untuk merasakan semua bentuk ketidaknyamanan. Semuanya untuk tahu semua yang ada. Melindungi untuk mengetahui batasan, memberi batasan, dan membebaskan untuk menembus batas.

Apa yang saya rasakan sekarang sangat membingungkan. Apa saja yang saya korbankan untuk sejumlah uang? Waktu, waktu, dan waktu. Waktu bersama keluarga, waktu bersama terkasih, waktu bersama kawan-kawan, waktu untuk di Kota Kembang. Saya punya pundi-pundi, tapi saya tidak punya kehidupan.

Tertekan? Tidak! Justru saya menikmati, dan sekali lagi bangga. Seberapa banyak orang yang bisa didorong sampai batas yang mereka pikir tidak bisa mereka lewati, saya merasa lebih dari bangga untuk menjadi salah satu dari mereka, walaupun saya belum bisa memberikan 30% dari yang saya bisa lakukan karena, kembali lagi, saya cinta diri saya sendiri. Saya butuh membuat diri sendiri bahagia, cukup dengan bangga.

Tapi semua pembelajaran, saya selalu benci senioritas, terutama di sekolah. Apa yang membuat mereka lebih superior dibandingkan kita selain waktu ketika mereka dilahirkan? Hormat itu diusahakan, didapatkan, bukan dipaksakan. Tapi di tempat saya sekarang, senioritas melambangkan pengalaman, pengetahuan, naik turun para atasan-atasan bahkan para bawahan-bawahan. Ini juga hal yang membuat saya sedikit berhati-hati setiap melangkah, tidak semuanya tertulis di buku, buku yang senang saya baca. Ini didikan Ayah, ”selalu baca buku manualnya!” Didikan yang saya bawa kemana-mana. Bertentangan dengan Ibu “nyemplung! Jangan lihat aja!” Hmm. Ini saatnya mengikuti jejak Ibu. Jangan terlalu sistematis dan analitis.

Kapan hari, atau kamu bisa sebut malam karena waktu itu pukul 11 malam, saya diajak makan buah yang berduri dikarenakan ada pengunjung yang jarang mengunjungi tempat kami. Di mana saya memutuskan tidak, saya cukup sayang untuk tahu saya butuh kasur dan selimut sesudah mandi air panas. Tetapi keputusan itu menghasilkan teguran informal yang menyatakan bahwa saya membuat keputusan yang miskin. Bukan pertama kalinya, tapi tidak pernah membuat saya berhenti kecewa pada diri sendiri.

Yang saya takutkan adalah, apakah saya akan menyesal dengan setiap keputusan yang saya buat? Di hari nanti, ketika saya tua? Apakah justru saya akan berterima kasih telah melakukan sesuatu untuk melindungi saya dari rasa capek, rasa terpaksa, atau rasa kantuk?

Apabila saya cinta diri  saya, cinta dalam arti melindungi, saya akan hengkang, karena setiap hari di sini adalah perjuangan. Perjuangan berat. Tapi kalau saya cinta diri saya dalam arti membebaskan, saya akan berada di sini untuk menantang diri saya setiap hari untuk menjadi lebih baik, baik, baik, baik, dan terbaik.

Jelas, hari ini saya masih memutuskan untuk membiarkan saya berlari jauh, untuk perjalanan yang masih jauh, lebih jauh setiap saat saya mendekatinya. Dan saya tidak menyesal sampai saat ini. Saya masih cinta diri saya, mungkin nanti akan kaya.

I wanna live the life I want the way I want to. And I’m not in it.

Death. Dead soul.

My infidelity at its most hypocrite form

Maybe it’s because I’m ashamed to admit it because I know that whatever the situation is, we’re not suppose to juggle, especially when it’s people that we’re juggling. People with feelings. But hey, I have my reasons and I don’t expect you to understand.

And honey, I’m sorry for the sadness that I put you in, I knew what I was doing despite all the things that I said to you that made me do the disgraceful acts.

I always know that you’ll always be there for me, fight hard for me and I know that now more than ever.

I see where you’re coming from and that maybe you’re feeling insecure now that I’m away again, but thank you very much for loving me that hard, that beautifully, that sweet, that innocently, and that lovely. I should’ve known that that’s the greatest gift another human being can give to me.

I love your brain
I love your wittiness
I love your chitty-chat mouth
I love your sexy hair, lips

I’m a disgrace, always have been, and thanks for always taking me in.

Wish that you were here to relieve my emotions, my stress, to be my happiness.

Lets do another thing new: doing things together in Medan?

This is the super fun trip I’ve been with Soeharto family in a long time.
Lebaran 2014 all the way!
Cokro Tulung, Klaten, Jawa Tengah.

This is the super fun trip I’ve been with Soeharto family in a long time.
Lebaran 2014 all the way!
Cokro Tulung, Klaten, Jawa Tengah.