I Move Oregano by The Ton
The Muscular
twitter    Instagram    Ask Away!

My conception of being free means to defy and deny everything my mum tells me. Thus, a misconception.

About: My conception of being free means to defy and deny everything my mum tells me. Thus, a misconception.
Turns out it’s an allergy reaction after all….

I’ve been feeling this tiny pain on my left eustachian tube that crawls to my ear causing sometimes pain and sometimes itch. And from my experiences and judging by how easy it is for my body to develop lumps which of course can grow into harmful tumor then finally malignant, I google “throat cancer” and of course it has all the symptoms I have except for that I don’t have a hard time swallowing.

So two weeks, several fights with Aprizal, and a fever later, I finally decide to go to the hospital. And thanks to doctors who somehow make us feel good just when we walk in, I lose my stress. The doctor is Dr. Adlin, he examines my ear, nose, and throat with his micro camera and he shows me that the tube that’s supposed to open and close without much effort, it’s somehow jammed with DUST! Yeah dust, the enemy that turns out to be always there, following me everywhere I go. It’s a lifelong battle with dust. I hate dust. I guess that’s why I can tell if a room is dusty just by smelling it, because you can smell the enemies!! And then after that, the friggin’ sneeze attack which FYI I’ve had one with 46 sneezes. Is that a world record or what? Blaarrgghh…

Then of course it all comes together, “that’s why I’ve only been feeling it here in Medan, my room is dusty like the dust has nowhere else to live.” So that’s when anal (non pornographic way)  Anin strikes. I clean the room, I flip out the bed (turns out my under-the-bed is a graveyard for 4 roaches), I wipe the top of the cupboard, and lalalalalala.. And after that, I can smell the clean feeling.

Lesson: I’m lazy to clean, I’m not supposed to be, especially with my condition with dust! And I think too much of everything, I thought I had cancer that I already made up a eulogy about myself, well always check things out before everything is too fucking late!

Doi.

There are so many things I can share with you. Way too many things. I finally found the person to do all my secrets with.

I share with you all this love that I have inside me, and you do me the same. I appreciate it.

I’m fascinated by your ability to accept me, the hard me. I’m amazed by your patience, your confidence, and your understanding in “handling” me. I’m not an easy person to deal with, I don’t even know how to face myself, I’m annoying.

I am very grateful with my fate, especially my fate to have an encounter with you which finally leads to us having these feelings towards each other.

You are sublime.

I am honored to be the person whom you tell everything to. I always feel very flattered with the duty in carrying your stories.

I see that life with you is easy. It’s flowing. Not without direction, just not without pressure.

I want and I need you.

Kapan kita akhirnya tahu apa yang sebenarnya sudah dimiliki selama ini? Tidak sekarang, tapi pasti sesudah kita berpisah atau kehilangan.

You don’t know what you’ve got ‘til it’s gone.

Bandung, Bandungku. Ingin kutampar semua orang-orang yang mengeluh hujan, mengeluh macet. Bagaimana pun itu, aku ingin ada di sana.

Aku suka hujan. Tidak, aku suka hujan di Bandung, aku suka Bandung di kala hujan. Aku tidak pernah keberatan berbasah-basahan. Aku tidak keberatan bermacet-macetan asalkan itu hujan, asalkan itu di Bandung.

Perasaan ini seperti penyesalan, padahal aku selalu bisa kembali. Tapi bedanya, aku tidak melakukan aktivitas di Bandung, aku ke Bandung hanya untuk pulang. Sementara di Bandung, aku ingin tinggal.

Aku senang jalan-jalan, tapi aku selalu tahu aku akan kembali ke rumah, ke Bandung. Tapi tidak sekarang, 4 minggu sudah aku tidak menghirup udara Bandung. Sakit hati.

Tapi hidup itu masalah pilihan, aku selalu bisa memilih. Sekarang adalah pilihanku, apakah aku cukup hebat untuk menjalani pilihanku, atau aku sekedar orang yang plin-plan, atau mungkin aku adalah manusia terjebak di satu situasi yang tidak menyenangkan sama sekali.

Fuck you comfort zone. Can you just be any zone so I don’t have to feel like a failure when I go back to you?

pidi-baiq:

Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah Wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika kuberada di sana, akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu 

pidi-baiq:

Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah Wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika kuberada di sana, akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu 

I am trying to make it here
Trying hard
I’ve been losing focus
My head is mostly filled with blanks
I have a destination, but I don’t have a map
I can go to sleep with eyes open in 2 seconds
I’m obsessed with somebody far less than important
I am losing faith
I am gaining faith
I am disorganized
My OCD is past tense, I hate it
I miss rain
I wish I was in the flood
I wish I was in the traffic
I wish I can speak Sunda to everyone I meet
I miss his touch, kiss, hug

I AM HOMESICK

“You think you know slebor?! I’ll show you slebor!”

I’m grateful to have my body. It’s the most amazing anyone could ask.

My body has a great muscle memory that it can tell me when I was a little off the track.

Like recently, I feel like I’m not that fit for I haven’t worked out in a long time and all I do is sleep and eat and sit all day long at the office. But, somehow I feel sore here and there, I’m feeling super tired, and I know, it’s my body’s alarm to tell me to start working out.

So thank you routine swims, playing, and running around in my young times, I owe you.

This is the funniest chat in a long time..

This is the funniest chat in a long time..

INI MEDAN, BUNG! #2

3 minggu sudah aku di sini dan yang terasa adalah waktu berjalan terlalu cepat (berikut pula uangnya). Orang bilang itu karena senang, senang karena betah, atau aku cuma getting by? Nggak, aku menikmati waktu aku di sini. Sangat menikmati.

Sebelumnya belum dijelaskan secara ditel kenapa aku bisa merasa seperti berada di rumah, and that’s the purpose of this post. Jadi, selama ini aku hidup di kota besar, Bandung kota besar kan? Iya. Di kota besar kita sepertinya sudah lupa dengan diri kita sendiri, dengan diri kita sebenarnya. Mungkin itu hanya apa yang aku rasa, tapi sepertinya kita terlalu sibuk dengan pandangan orang lain terhadap kita: kita harus keren. It’s a constant pressure for me to keep showing off about everything. Tapi berbeda dengan Medan. Jelas, orang-orang masih memikirkan penampilan, masih mencari sepatu bagus, baju bagus, tas bagus, tapi yang aku dapat dari semua itu adalah mereka melakukan itu semua untuk kepuasan diri mereka sendiri, mungkin memang ada tekanan sosial, tapi mereka tidak pernah menunjukkan kalo mereka beli sepatu baru atau apapun itu. Dan sampai detik ini, aku belum menemukan anak-anak muda keren yang seperti sering terlihat bertebaran di Bandung. Think Medan’s not cool? Hell, no! I love it here!

Lalu Medan pun memiliki mentalitas kekeluargaan, tidak seperti kota-kota besar lainnya, contohnya Jakarta, di mana kita dibiarkan untuk jalan sendiri. Beda dengan di Medan, orang-orang lebih aware dengan kehidupan sekitarnya. Hal-hal kecil seperti membawakan plastik belanja, menawarkan makanan, menawarkan minuman, semua orang perhatian, dan hal itu sangat mengena buat aku karena aku pun kebiasaan untuk struggle sendiri, tapi ternyata sangat menyenangkan ya kalau orang perhatian terhadap kita.

Selain itu, stigma-stigma mengenai anak-anak MT si calon bos di sini tidak dianggap sebagai hal yang negatif, aku tidak merasa dipandang sebagai si bau cingur bego yang gak tau apa-apa tapi bisanya cari masalah saja. Dan diajak ngegosip is the biggest honor to me!

Mamak-mamak berisik! Mamak-mamak dibawa enjoyI Kak Yayuk dan Kak Nunik.

Di cabang Medan 1 ini, Operation Head-nya, Pak Bertha, mengadakan kompetisi futsal setiap hari jumat yang terdiri dari 6 grup, di mana masing-masing tim main 10x, dan tim underwriting lah yang paling unggul sampai sekarang dengan 3 menang, 1 seri, dan 1 kalah. Dengan kompetisi futsal ini, orang-orang sangat bersemangat, they take this very seriously. Setiap jam 5 di kantor, semua sudah siap-siap untuk bertanding. Beda resepsinya apabila ini diterapkan di Jakarta, seperti hilang uang mereka kurasa kalo ada beginian.

Pak Bertha, the people man.

Jelas kan kalo aku senang di sini?! Tidak ada tempat yang lebih baik selain Medan. I sure will appreciate my family and friends more after this.

“No matter where you come from, your dream is valid.”

Lupita Nyong’o’s Oscar Speech

humansofnewyork:

"I’m doing a photo project on women who wear the hijab in creative ways. My thought is that challenges and restrictions make us more creative."
You can see the results of her project here: Sara Shamsavari

humansofnewyork:

"I’m doing a photo project on women who wear the hijab in creative ways. My thought is that challenges and restrictions make us more creative."

You can see the results of her project here: Sara Shamsavari

Anonymous asked: Menurut saya sih Ben, kalau kamu paling tidak beragama kamu pasti akan terselesaikan masalah-masalah yang kamu alami. Lagipula menurut saya kamu adalah manusia yang sangat sombong dengan tidak keinginanmu untuk beragama. Inget hidup kamu setelah di bumi ini akan ada surga dan neraka.

benlaksana:

Kalau kamu memang membutuhkan sebuah agama dan sebuah konsep ketuhanan dalam hidup kamu untuk menjalani hidup kamu secara menyeluruh ya silahkan. Itu menjadi hak kamu karena kamu memang membutuhkan hal itu.

Seharusnya bukan bagaimana seseorang menjalani sebuah hubungan vertikal (kita dan Tuhan) yang dipermasalahkan namun hubungan horizontal, antar manusia yang harus kita bicarakan. Menghargai dan mengerti sesama dan bukan sekedar hanya mentoleransi sesama. Apa gunanya toleransi jika kita melihat diri kita sebagai manusia yang lebih superior dari orang-orang yang berbeda dengan kita? Apa gunanya manusia yang beragama jika hanya digunakan untuk memberi makan ego kita masing-masing? 

Apakah kita dapat bergerak melampaui toleransi dan menerima bahwa kita pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama? Atau apakah dengan agama kita semakin hidup dalam kotak ego kita masing-masing dan berpegang teguh bahwa saya berbeda dan saya “lebih” dari yang lain? Saya dan umat sayalah yang akan diselamatkan dan mereka tidak.

The problem of ego and its relationship with personal religious salvation is crucial in an individual’s personal religious discourse but is often so far and seldomly self thought of that it becomes an invisible cancer that rots you from within. The marriage of religion and ego becomes nothing more than a catalyst for self-destruction.

Progresivitas kita sebagai manusia bukan hanya berlandaskan agama namun kompetensi kita dalam memahami pentingnya hubungan antar manusia dengan cara yang beradab. Cara kita menggunakan agama dilandasi oleh hal ini.

Jika kita memiliki landsan menghormati sesama manusia termasuk yang berbeda maka interpretasi kita akan agama kita akan sejalan dengan hal ini. Juga sebaliknya, jika kita melihat manusia yang berbeda sebagai sebuah ancaman maka kita akan menggunakan agama untuk menjustifikasi hal itu. Moralitas dan keinginan kita untuk hidup damai bukan berasal dari agama tapi telah ada dalam diri kita masing-masing namun begitu juga dengan ego, amarah, kesedihan, dll. Disinilah peran agama sebagai pengingat bahwa kita membutuhkan kehidupan yang damai jika kita ingin kebahagiaan dan jika kita ingin memajukan manusia secara menyeluruh.

Mungkin pertanyaan terakhir dari saya buat kamu adalah dapatkah kita sebagai manusia menyadari dan melampaui ego kita masing-masing dengan agama? Karena menurut saya pribadi peran agama menjadi hampa jika kita dengan mudah mengutuk orang lain yang berbeda dengan kita dan jika tujuan kita beragama hanya mencari keselamatan kita masing-masing.

Lalu apa ya..tadi mau nulis tambahan lagi tapi lupa ey haha

It’s just the best response to the population of Dense Town.

INI MEDAN BUNG!

Jadi, reaksi pertama ketika tahu OJT Spesifik aku itu Underwriting Medan 1 adalah “pasti Mbak Sri becanda” dan baru beberapa detik kemudian aku sadar kalau dia serius. Baru beberapa detik kemudian lagi aku sadar, “oh my God that’s gonna be my reality for the next three months!" Lalu baru sadar lagi; nanti aku sendiri, Medan!, supir-supir angkot 05, jauh dari Ibu, jauh dari Aprizal. Daaaan kemudian aku menangis, sambil ditahan, tapi gak ketahan.

Kenapa ya? Kaget mungkin karena ekspektasi selama ini paling cuma bakal ditaroh di Pulau Jawa, eh ternyata.. Dan lagi ini Medan, bayangan aku soal Medan orangnya galak-galak, makanan babi, dan aku akan jadi orang teralim di Medan. Tapi….. semua itu terbantahkan hanya gak lebih dari 5 menit setelah pengumuman penempatan. Bang Madi (Hotmadi Samosir) yang kebetulan ada di ruangan yang sama langsung nenangin aku dengan bilang kalo Medan itu asik. Bang Madi ini lagi pendidikan di Jakarta, sebelumnya dia adalah Branch Underwriting Head di Medan 1, dan orangnya halus dan sopan sekali, beda dengan bayangan Batak di kepalaku. Kemudian dia kasih Pin BB BUH Medan 1 yang baru, Bang Herri, sambil terus nenangin kalo medan seru, orangnya baik-baik. Terus teman-teman yang pernah ke Medan pun bilang “ah Medan seru, pasti betah di sana!” Cukup menenangkan, tapi aku belum tahu yang sebenarnya. Tapi memang, semua orang yang aku tanya, jawabannya sama semua: aku pasti bakal betah.

Lalu keesokan harinya aku dikasih tahu sama teman “kalo di Medan mau dijemput, telpon Ko Agus aja, tadi Ko Agusnya nelpon aku.” Terus teman-teman yang lagi OJT di Medan 1 pun aku hubungi dan respon mereka baik sekali, baik sekali. Semuanya baik sekali.

Sudah saatnya aku harus pergi Medan (2 hari setelah pengumuman) di pagi buta, ikut first flight untuk penerbangan yang hanya membutuhkan 1 jam 45 menit, yang saya benci karena sudah 3 malam berturut-turut hanya tidur 3 jam, kepala sakit, dan saya berpikir untuk bisa istirahat di pesawat, tapi mustahil. Ketika pisah sama Ibu, Eyang, dan Izal di bandara pun berat, aku harus menahan nangis, just for the sake of looking strong.

Pokoknya sesampainya di Medan, impresi yang saya dapat adalah; orang-orang di sini ramah, tulus, taking everything easy, mayoritas muslim, dan paling penting adalah mereka gak menganggap aku sebagai outsider. Itu bikin aku berpikir, jadi baik itu gak susah. Hidup di kota metropolitan kadang-kadang bikin aku lupa untuk berbakti kepada lingkungan, kepada society. Apalagi di Jakarta, di mana aku sangat menikmati individualitas orang-orang dan diriku sendiri. Kalau ada orang baru pasti dibiarkan, biar jalan sendiri, padahal kita tahu kadang-kadang kita butuh gandengan orang lain untuk jalan. Itu yang aku rasakan di Medan. Hebat.

Selain itu pun mentor-mentor di sini sangat suportif, semuanya bisa diajak sharing tentang project, semuanya pintar, semuanya berpengalaman.

Memang selalu lebih baik untuk sedih di awal tetapi senang di akhir.

Loving Medan’s chopsticks. Very tiny. Suitable for my tiny fingers.

Loving Medan’s chopsticks. Very tiny. Suitable for my tiny fingers.

Everywhere I go, is moment to shine!

"Mo-Di" theme by Saraswati